Lebih Bijak dalam Mengeluarkan sebuah Statement

| |

Beberapa waktu lampau, diharamkannya rokok sempat membuat gempar bumi nusantara ini. Ya, maklum sajalah, permasalahan rokok ini, jika kita memandangnya dari keseluruhan aspek akan menjadi sebuah dilema. Di satu sisi kesepakatan mengenai bahaya merokok itu sendiri saya kira sudah jelas bagi sebagian besar orang. Bahkan saya malah berkeyakinan perokok sebenarnya sudah banyak yang sadar akan bahaya merokok itu sendiri. Hanya saja karena "kenikmatan" yang sudah melekat pada diri para perokok membuat mereka terus saja mencari berbagai macam apologi untuk tetap bisa merokok. Pasalnya, di sisi lain, rokok juga menjadi sumbangan yang signifikan bagi devisa negeri ini. Tak diragukan pula fondation besar juga dibiayai oleh pabrik rokok. Lebih melebar lagi, menyangkut masalah pekerjaan, karena berapa banyak industri rokok ini menyerap tenaga kerja yang makin hari permasalahan tenaga kerja (pengangguran) semakin tidak teratasi.
Lalu bagaimana? tentu adalah hal yang tidak benar jika kemudian membiarkan ini terus berlangsung (tetap menjaga kehidupan industri rokok), karena sekali lagi bahaya rokok itu sendiri yang dapat merugikan banyak orang, termasuk perokoknya sendiri. Tapi tak pula bijak jika hanya mengeluarkan fatwa tanpa berpikir untuk sebuah solusi, yaitu solusi bagaimana agar jika industri rokok benar-benar dihentikan tidak lantas merugikan bagi para pekerja, pemilik industri maupun bagi perekonomian negara ini sendiri.

Sama sekali saya tidak bermaksud membela para pemuja "tuhan 9 cm" ini. Mengenai pekerjaan dan rezeki, dalam skala pembicaraan personal memanglah cukup bagi kita untuk senantiasa mengingat bahwa rezeki Alloh itu Maha Luas, agar senantiasa terpatri dalam keyakinan kita bahwasanya pintu rezeki itu sangatlah banyak. Namun, menurut saya pribadi, dalam skala yang lebih global, perlu ada yang memikirkan, sebuah solusi keluar dari permasalahan industri rokok itu sendiri. Misal saja, dari pihak pelaku industri dan pemerintah bekerja sama dalam merumuskan sebuah produksi alternatif yang tentu saja dapat mendatangkan manfaat dan sifatnya terjamin halal, bahkan kalau bisa dengan memanfaatkan bahan-bahan mentah produksi rokok itu sendiri yang sifatnya tidak dapat mendatangkan mudharat. Bagi saya, diperlukan adanya pemikiran-pemikiran serta langkah langkah nyata ke arah sana daripada hanya sekedar meributkan pengharaman rokok (dari kalangan perokok tidak terima karena "kesenangannya" digannggu, sementara dari kalangan agamis terus saja mencecar haram, haram dan haram dengan -maaf- hanya sekedar mencecar)
Lebih luas lagi, ada sebagian kalangan yang lantas ikut-ikut mengharamkan tembakau dan petani tembakaunya. Subhanallah, menurut saya ini kurang fair. -Maaf- coba saja kalau orang tua mereka itu sendiri yang berpencaharian sebagai petani tembakau, apa ya mereka masih bersikap demikian? Kalau saya sendiri, boleh lah -ekstrimnya- mengharamkan pekerjaan sebagai petani tembakau ataupun zat tembakau nya itu sendiri jika kaitannya langsung untuk rokok (pemanfaatannya ditujukan untuk industri rokok). Tapi, maaf- maaf saja lah, memangnya tidak ada pikiran untuk mencari sisi lain dari tembakau itu sendiri, misalnya mengeksplorasi hasil-hasil riset tentang manfaat yang bisa diperoleh dari tembakau. Tentunya, untuk selanjutnya bisa dikembangkan pemanfaatannya ke arah sana. Seperti yang saya dapatkan dari sebuah sumber di bawah ini,
Tembakau tidak selalu berkonotasi negatif sebagai penyebab kanker, ternyata tanaman tersebut dapat pula menghasilkan protein anti-kanker yang berguna bagi penderita kanker, kata peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), DR Arief Budi Witarto MEng, demikian seperti dikutip Antara.

Proposal penelitian soal inilah yang membawa Doktor Bioteknologi dari Fakultas Teknik, Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang itu meraih penghargaan dari Badan riset Jerman DAAD dan Fraunhofer di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam usulan risetnya itu Arief mencoba untuk memproduksi protein penting “Growth Colony Stimulating Factor” (GCSF) dengan menggunakan tanaman tembakau (Nicotiana spp., L.) lokal dari varietas yang paling sesuai “genjah kenongo” dari 18 varietas lokal yang ditelitinya.
Tanaman tembakau ini tidak diambil daun tembakaunya untuk memproduksi rokok tetapi dimanfaatkan sebagai reaktor penghasil protein GCSF, suatu hormon yang menstimulasi produksi darah.

“Protein dibuat oleh DNA dari tubuh kita, kita masukkan DNA yang dimaksud itu ke tembakau melalui bakteri, begitu masuk, tumbuhan ini akan membuat protein sesuai DNA yang dimasukkan. Kalau tumbuhan itu panen, kita dapat cairannya berupa protein,” katanya.

Selain untuk protein antikanker, GSCF, ujarnya, bisa juga untuk menstimulasi perbanyakan sel tunas (stemcell) yang bisa dikembangkan untuk memulihkan jaringan fungsi tubuh yang sudah rusak.
Arief memang pakar di bidang rekayasa protein dan telah banyak menerima penghargaan, antara lain Paramadina Award 2005 untuk bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dari Universitas Paramadina dan PII Engineering Award 2005 untuk kategori Adhicipta Rekayasa atau Best Creation in Engineering dari PII/Persatuan Insinyur Indonesia.

Sebelumnya ia juga telah menerima penghargaan lain yaitu Science and Technology Award 2003 dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) dan Peneliti Muda Terbaik Indonesia 2002 untuk bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa dari LIPI.

Ia juga pernah terpilih dengan nilai tertinggi mewakili Indonesia bersama empat peneliti muda Indonesia lainnya dengan undangan resmi dari Pemerintah Jerman untuk menghadiri Pertemuan Para Penerima Hadiah Nobel di kota Lindau Jerman.
 Sumber : http://www.wonosari.com/medis-f6/manfaat-tembakau-t3346.htm

Nah lo, kalo sudah begini, jika kita hanya mengedepankan pernyataan haram dan haram tanpa adanya suatu pemikiran maupun usaha dalam mengatasi masalah ini, bisa-bisa kita mati telak "dicaci" para pemuja rokok. Seperti yang ada pada sumber tersebut, seorang (yang barangkali ia adalah perokok) menanggapi seperti ini:
Yo cen tembakau ki apik jek.....jelas mbok do dilarang nek aku tetep dudut no.... 
ups, maka dari itu mari kita budayakan perilaku yang berbasis riset, sehingga pernyataan kita juga akan mengandung solusi terhadap sebuah masalah...

Wallahu a'lam
 

1 komentar:

dee mengatakan...

merokok??
hmmm..
ga tau de mba haram ato halal..
tapi kalo menurutku.. selama di kitab suci g ada penjelasan yang melarang.. itu masih dianggap halal.. :P
*pemikiran yang biasa*

Posting Komentar