Dasar Pendidikan Kita Adalah Kepatuhan Bukan Pertukaran Pikiran

| |

Judul di atas adalah sebuah petikan dari sajak Rendra "Sajak Anak Muda". Aku sesaat merenungkan maknanya, dan kutemukan beberapa fakta tentang hal ini. Dan beberapa diantaranya aku merasa ada benarnya. Hal ini juga terjadi dalam ranah syariat. Oke, dalam beberapa hal memang diperlukan adanya "kepatuhan mutlak", dalam segi aqidah misalnya. Akan tetapi "kepatuhan mutlak" yang disertai dasar yang jelas akan lebih baik biar lebih mantap dalam meyakininya, di sinilah letak budaya pertukaran pikiran itu akan berperan. Maksudnya seperti ini, bedakan jika seorang tua berkata pada anaknya,
"Pokoknya Tuhan kita Alloh"(kalimat2 saklek)
dengan perkataan,
"Hanya Alloh yang patut kita sembah, IA ada, bersemayam di atas arsy Nya..dst"
Dengan penyampaian model kedua dengan mengajak anak bertukar pikiran yang disertai penyampaian dasar/ dalilnya adalah akan lebih menguatkan dan jika suatu saat anak menemui sebuah "benturan" pemikiran ia akan lebih bisa "mempertanggung jawabkan" apa yang ia yakini.
Salah satu hasil "kepatuhan" tanpa pertukaran pikiran yang akibatnya cukup buruk adalah jika menyangkut hal khilafiyah ijtihadiyah. Hal ini menumbuhkan adanya fanatisme, padahal belum tentu ia tahu apa dasarnya ia melakukan itu.Misal dalam hal solat, kita kebanyakan melakukan apa yang sudah diajarkan ayah ibu kita sejak kecil. Parahnya, kebanyakan dari kita juga ga tau latar belakangnya, dalilnya dlsb. Kita hanya tau o...saya dari dulu i'tidalnya begini, tasyahudnya begini, takbirnya begini dst tapi kita tak tahu mengapa kita melakukan dengan cara itu. Akibatnya, banyaklah terjadi saling menyalahkan, dan merasa apa yang biasa dilakukannya lah yang benar, yang lain salah.
Sebuah kisah juga menggelitik pemikiran saya tentang ini. Ketika ada seorang anak gadis (sepantaran SMP) yang berasal dari keluarga dan lingkungan yang sangat mengerti dan menerapkan syariat (insya Alloh), lalu dia beraktivitas bersama saya dan teman2 hingga maghrib. Lalu, bertanyalah seorang teman saya kepada gadis kecil tersebut "kamu tidak apa2 pulang sampai maghrib?"
dan jawaban gadis kecil tersebut adalah kira2 seperti ini (sedikit lupa redaksionalnya), "ga apa2, kalo abi belum pulang mau malam2 juga gapapa, tapi abi sudah pulang, jadi aku langsung pulang ya"
Kejadian itu bisa jadi gambaran betapa lemahnya pendidikan kita dalam peletakan dasar-dasar hukum.Seharusnya (ini menurut saya lo ya), anak tersebut menyadari alasan2 mengapa ia dilarang pulang malam2 dan lain-lain halnya yang diajarkan (atau lebih tepatnya adalah dibiasakan) oleh kedua orang tuanya.
"Biasakanlah yang benar, bukan membenarkan yang biasa"
dan ingat bahwa "kesadaran adalah matahari"

Wallahu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar