Apakah KIta Merasa Lebih Mulia dari Mereka?

| |

Wahai diri yang dhoif....apakah kau anggap dirimu telah lebih mulia dibanding orang tuamu? Hanya karena satu kata yang kau pakai, hanya karena kau ngaji, lantas kau merasa lebih mulia?Demi rasa tinggi yang telah menjelma menjadi seolah-olah ketenangan, apakah itu yang menjadikan kerenggangan antara kau dan mereka? Benarkah begitu?
Hmm..entahlah, tulisan ini hanyalah sekadar sebuah ungkapan yang terlahir dari pemikiran, bisa saja hanya tulisan ngawur. Barangkali ada segelintir orang yang terkadang mungkin timbul di hatinya perasaan "kasihan" yang berdampak ke arah penyesalan terhadap keadaan orang tua. Akibatnya, terkadang rasa ingin menentang dan menyalahkan mereka menjadi besar.Misalnya saja, seorang anak yang baru saja semangat-semangatnya menuntut ilmu din, atau bahasa kerennya -ia sudah ngaji-, sedangkan orang tuanya ia sebut belum ngaji, karna ia merasa tempat ngaji orang tuanya berbeda dengan dia. Lantas karenanya, mungkin memang ada beberapa hal yang memang belum dimengerti orang tua, atau mungkin mereka menggunakan kaidah-kaidah fikih yang berbeda, lantas si anak jadi tidak mempercayai orang tuanya sendiri . Akibatnya, dadanya selalu terasa sesak jika mendapati nasihat orang tua.Sebenarnya, hal ini bukan hanya bisa terjadi dalam kaitan hubungan ortu dan anak tetapi saya menitik beratkan pada hubungan anak-ortu mengingat kedudukan ortu yang sangat mulia.


Ketahuilah, bahwasanya disebut manhaj yang benar adalah aqidah yang benar dan ittiba' yang benar, yakni berjalan di atas quran dan sunnah. Bukan di mana tempat ngajinya, bukan siapa ustadnya, tapi bagaimana/ apa yang diajarkan.Maka yang perlu dilakukan adalah menilai objektif secara keseluruhan. Asalkan, point aqidah telah terpenuhi, yaitu bersihnya dari keyakinan2 syirik dan bid'ah-bid'ah dalam hal ibadah.Cobalah menilai orang tua kita lebih objektiif, bukan hanya sekadar parameter-parameter fisik saja.Barangkali, akan kita temukan, betapa rendahnya kita, betapa bodohnya kita, dan betapa jauhnya kita dari sunnah yang senantiasa kita gembar-gemborkan dibandingkan orang tua kita.

Lihatlah, orang tua kita barangkali lebih baik dalam solatnya, sedangkan kita masih suka menunda solat lima waktu. Lihatlah, betapa pengabdian mereka terhadap orang tua mereka, sedangkan kita belum melakukan apa-apa untuk orang tua kita, sementara kita dibesarkan dalam kandungan ibu, merepotkan dari semenjak lahir hingga saat ini. Lihatlah ibu kita yang telah benar-benar menjadi seorang ibu dan istri yang menjalankan kewajiban2nya, begitu juga bapak. Sedangkan kita, mungkin masih dalam taraf teorinya saja.Lihatlah betapa qoanaah nya mereka, lihatlah...banyak hal yang mereka amalkan namun kita belum..

Biasanya, yang menjadikan kesan berbeda adalah faktor pengalaman yang akan melahirkan faktor kebijakan. Kita tak dapat memungkiri, orang tua kita telah lebih lama hidup, onak kehidupan lebih banyak dan lebih lama mereka lalui, sedangkan kita anaknya hanyalah anak, yang tak lebih lama hidup dari mereka.Kita masih hijau, idealisme kita masih kuat menancap, menyala-nyala penuh semangat. Maka hendaknya kita senantiasa memohon akan istiqomahnya semangat kita. Belum tentu dalam keadaan yang sama dengan orang tua, kita lebih baik dari mereka, di mana nanti kita akan perlahan-lahan tergerus ujian duniawi. Dan tak lupa jua kita mendoakan orang tua kita atas kebaikan, bermuamalah lah dengan baik, muliakan mereka, betapapun kondisi mereka terlebih jika mereka muslim. Ingatlah orang-orang terdahulu yang begitu tetap memuliakan orang tua walaupun orang tua dalam keadaan kafir, tentu saja asalkan tidak menyentuh konteks aqidah yang bertentangan.

Marilah, mari perluas dada kita, mari lebih buka hati, legakan, untuk lebih menjalin hubungan dan komunikasi yang baik dengan orang tua. Ingatlah pesan nabi tentang tiga amalan yang paling utama : solat tepat waktu, berbakti pada orang tua dan jihad fisabilillah. Jangan samapai kita menjadi orang yang tamak akan pahala tetapi kita lupa akan hal tersebut.

Wallahu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar