Tampilkan postingan dengan label opini-opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini-opini. Tampilkan semua postingan

Sudah Siap Nikah ? Ciyus?

| | 0 komentar

(Miapah? hehehe...)


Catatan ini ditujukan untuk orang2 yang sudah nikah (termasuk diriku) sebagai koreksi diri, juga untuk orang2 yang belum nikah untuk mempersiapkan diri.

Langsung aja, karena aku lagi bingung basa-basi. Saat ini dalam benak pikiranku (masih) mengatakan bahwa kebanyakan provokasi menikah muda belum dilakukan secara tepat. Kenapa? Karena kebanyakan hanya memberi provokasi pacaran setelah nikah, bukan menikahnya itu sendiri dan juga konsekuensinya yaitu sebuah kehidupan baru bernama rumah tangga.

Menurutku, (kamu boleh setuju boleh tidak, tapi tidak boleh protes!:p) kesiapan seseorang untuk menikah itu akan melewati tahapan-tahapan sebagai berikut:

Menjaga Silaturahmi

| | 0 komentar

Seuntai kata-kata dari salah seorang guruku tadi siang menjawab celah keraguanku. Menjaga hubungan baik itu perlu, bukan hanya untuk kita tetapi lebih untuk generasi penerus kita (baca : anak). 

Aku percaya bahwa hubungan baik yang telah terbangun dengan teman-teman semestinya tetap dijaga, gak peduli kita sekarang jadi apa, dimana, dan mereka jadi apa, di mana. Aku percaya itu, oleh karenanya aku paling tidak suka jika sebuah pertemanan harus bubar karena alasan yang tidak jelas. Misalnya dulu semasa masih kuliah ketika mahasiswa didera pergolakan idealisme, seringkali karena berpindah kelompok memutuskan hubungan pertemanan. 

Dakwah atau Berdagang?

| | 0 komentar

Ini bukan soal dakwah lewat jualan, tetapi ini soal dakwah itu sendiri.

Setau saya, dakwah artinya mengajak, mengajak pada kebenaran. Namun, saya sering merasakan orang-orang yang mengaku berdakwah itu seperti orang berdagang. Pasalnya, mereka menjadikan tolak ukur keberhasilan dakwah dari hal-hal yang lebih bersifat material, seperti banyaknya "anggota komunitas", apakah orang tersebut sudah memakai "seragam" yang sama dengan mereka, dan semacamnya. Hal tersebut juga bukan menyudutkan "jamaah" manapun, tetapi saya melihat "benang merah" itu terjadi di hampir semua jamaah.

Agama dan Pengetahuan

| | 0 komentar

Keduanya tidak bertentangan. Sejarah mencatat perpecahan nashoroh yang diakibatkan pengetahuan. Allah menunjukkan kembali cahaya melalui Muhammad sallallahu'alaihi wassalam. Sekarang kenapa nampak gejala-gejala ingin mengkontraversikan agama dan pengetahuan?

Allah, berilah kami petunjuk

Perkumpulan Mahasiswa, Organisasi Profesi dan Ngaji

| | 0 komentar

Ini hanyalah sebuah episode kecil hidupku dalam serial kampus. Bukan mempertentangkan sesuatu, hanya sekedar berbagi sebuah warna hidup. Semasa masih menyandang status mahasiswa s1, kurang lebih 3 tahun aku bergabung dengan sebuah unit kegiatan mahasiswa di lingkungan fakultas teknik ugm. Seingatku awalnya banyak sekali yang mendaftar di sana, lalu lambat laun barangkali seiring dengan para mahasiswa menemukan jalannya masing-masing, bisa ditebak bagaimana jumlah anggota aktif di akhir tahunnya.

Aku tidak hendak bicara soal teori manajemen organisasi. Aku hanya ingin curhat, kenapa ya aku bisa betah banget di organisasi itu. Sementara itu, aku pernah diajak di beberapa organisasi lain, khususnya organisasi keagamaan, tapi ya hanya bertahan sekejap saja untuk menjadi pengurus aktif. Kalau penggembira, ya selama bisa membantu aku membantu. Namun, aku juga tidak hendak membandingkan organisasi satu dan lainnya. Ini hanya curhatan alias uneg-uneg.

Aku, Mencontek dan Memasak

| | 0 komentar

Belakangan ini, berita tentang mencontek masal menjadi headline news di negeri seberang. Aku jadi ingat masa laluku, khusunya ketika smp. Ada sebuah pelajaran yang entah kenapa kami semua sebagai siswa tidak canggung dan tidak ada rasa bersalah untuk nyontek teang-terangan, bahkan buka buku di depan guru. Dan itu adalah mata pelajaran tata boga.

Sebelum ngomongin lebih lanjut soal aku dan mencontek, ada baiknya bila kita sedikit membahas kenapa sih sampai harus mencontek, apalagi seorang guru yang menyuruh anak didiknya mencontek. Ini mungkin karena niat kita tidak ikhlas. Mencontek dilakukan karena kepentingan dunia, ingin nilai yang bagus bukan?

Bukan berarti nilai bagus itu tidak penting, tapi bagaimana sikap kita terhadap nilai itu sendiri. Apakah kita menjadikan nilai sebagai tujuan utama, atau nilai itu sebagai ukuran. Kalau nilai dijadikan tujuan utama, ga mustahil cara apapun kita lakukan untuk mendapatkan nilai yang bagus. Lain halnya kalau nilai kita anggap sebagai ukuran saja, yang berarti kita mengukur kemampuan dan hasil dari proses belajar kita.

Bahasa yang semakin kacau

| | 0 komentar

Sebenarnya saya sudah lama ingin menulis soal bahasa, tapi saya bingung ingin memulai dari mana. Saya memang bukan ahli bahasa, dan bukan berarti juga saya selalu berbahasa indonesia sesuai dengan EYD. Sepertinya kalau saya selalu berbicara menurut EYD malah terkesan kaku dan lucu. Namun, siang ini mood ku sedang ingin membahas mengenai hal ini.

Perkembangan media komunikasi elektronik mulai dari telepon, sms, jejaring sosial sampai dengan jaringan bbm turut berpartisipasi dalam pergeseran nilai berbahasa. Saya termasuk orang yang paling sering uring-uringan mengenai ini. Mulai dari saat menjamurnya sms. Seringkali saya mispersepsi dengan si pengirim sms. Di sini saya tidak berbicara mengenai tulisan besar kecil angka huruf gaya khas remaja yang sekarang sedang menjamur lo ya. Di sini saya membahas sms dengan tulisan yang masih dalam kategori wajar. Saya seringkali mispersepsi karena pemenggalan kata dalam intonasi, penggunaan tanda baca dan penempatan besar kecilnya huruf. Perbedaan persepsi kadang positif kadang negatif, kadang juga saya mengartikannya agak berlebihan. Sampai-sampai teman saya pernah bilang, " kamu itu baca sms kayak baca skrip drama". Hehehe..

OSPEK

| | 0 komentar



Kata ospek pastinya sudah tidak asing lagi terdengar. Selama ini, ospek masih identik dengan kekerasan dan hal-hal yang negatif. Banyak civitas akademika yang serta merta tidak menyukai ospek. Alasannya tentu saja takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Lebih-lebih dari mereka, orang tua mereka lebih banyak yang antipati terhadap kegiatan ospek. Namun, apakah ospek memang benar tidak bermanfaat sama sekali.

Saya sendiri bersikap tidak menentang tetapi juga tidak terlalu mengapresiasi. Tidak semua dari ospek itu negatif, bahkan menurutku begitulah sebagian gambaran kehidupan. Masih teringat sekali, nasihat dari ketua OSIS pada waktu aku mengikuti LDK di SMA. Ia berkata kepada kami, kenapa ketika ospek semua seolah salah meskipun sudah benar tetap sering disalahkan. Dan inilah yang ia sampaikan : "Nanti ketika kalian sudah terjun dalam kehiidupan bekerja maupun bermasyarakat, mungkin kalian akan mendapatkan keadaan seperti itu. Ketika kalian sudah berusaha optimal, sudah memberikan yang terbaik, tetapi tetap menerima caci maki, atau paling tidak koreksi. "

Selimut Cemas dari Merapi

| | 0 komentar


Ketahuilah kawan, tidak ada tempat yang aman secara hakiki. Memang jogja (khususnya utara) sedang dirundung musibah. Efek meletusnya gunung merapi membuat orang orang panik. Tapi, kok ya ada juga ya yang gak punya perasaan malah memanfaatkan situasi seperti ini, menjual barang kebutuhan dengan harga tinggi ataupun yang menyebarkan hoax macam-macam.

Saya dengar kawan-kawan panik dan banyak yang pulang kampung, ataupun sekedar berpindah tempat untuk mengungsi. Meski secara logis hal itu belum tentu baik pengaruhnya, baik secara proses maupun hasilnya, tetapi ini wajar secara kemanusiaan. Sebab secara perasaan akan mendapatkan rasa yang lebih tenang bila dekat dengan keluarga. Mungkin, bila aku di posisi mereka pun begitu.

Kepanikan dan kecemasan menjadi tidak wajar jika ada unsur memaksakan diri dan mengada-ada. Memaksakan diri untuk mengungsi dengan cara apapun, dan mengada-ada semisal rumahnya berada jauh di radius batas aman tetapi tetap mau mengungsi ke luar kota (atau bahkan ke luar negeri?)Padahal, seperti kalimat di awal, tidak ada tempat yang aman secara hakiki. Setidaknya menurut saya begitu.

Pengen Punya Tipi

| | 0 komentar

Selepas menyelesaikan pelajaran membaca bahasa Inggris alias "reading", terjadilah sebuah percakapan antara siswa dan guru
Siswa1 :"Ammah, ammah punya tv gak di rumah?"
Guru  : "Ada"
Siswa1 : " Enak ya ammah kalau punya tv di rumah"
Guru sengaja diam untuk mendapat respon siswa yang lain. Tak berapa lama kemudian, siswa lain menimpali 
Siswa 2: " Enak apanya, bosen tau isinya itu-itu aja"
Siswa kembar: " Iya sama aja punya tv ga punya tv, isinya gitu-gitu aja"

Ok, saya  bukan hendak menulis skenario dialog, drama apalagi opera sabun. Potongan dialog di atas tidak lain tidak bukan terjadi di kelas saya. Dalam tulisan ini yang hendak saya kritisi adalah pemahaman dan pola pendidikan. Sekaligus semoga bisa menjadi penjelas atas diskusi yang telah berlangsung antara saya dan seorang teman saya tentang "haramnya tv".

10 Filosofi Hidup orang Jawa

| | 2 komentar

Suka saja, saya dapat dari akun Jogja di fb dan ingin share... (lagi males menjelaskan satu per satu, hehe.. dibaca aja ya!)


10 Filosofi Hidup orang Jawa

1. Urip Iku Urup (Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat nagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik)

2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).

3. Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti (segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar)

4. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha (Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan)

5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).

Tidak Ada Wanita Yang Bisa Sempurna

| | 1 komentar

Barangkali kita sering mendengar kalimat "No body's perfect". Yup,itu memang benar, akan tetapi setelah kupikirkan lebih lanjut, aku lebih suka memberi judul tulisan ini "Tidak Ada Wanita Yang Bisa Sempurna". Kenapa gitu? Saya akan coba menjelaskannya, hasil riset kecil-kecilan (hahaha..sok nggaya!) yang sudah saya lakukan. Kesempurnaan seorang wanita, bisa jadi meliputi faktor-faktor berikut : Paras/kecantikan rupa dan badan, Cerdas otaknya/ suka belajar/ pintar (secara akademis), Pintar dalam hal agamanya (banyak hapalan dll),Cerdas emosional, Pinter ngurus rumah (masak, dll dsb), Baik perangainya/akhlaqnya.
Ketahuilah, bahwasanya semua itu tidak mungkin untuk bisa dimiliki seorang wanita. Bukan tidak dimiliki, karena menurut saya semua wanita diberi bekalan potensi yang sama oleh Allah, termasuk potensi-potensi yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi, Allah Yang Maha Sempurna menjadikan kemampuan masing-masing berbeda satu sama lain. Ada yang dimudahkan dalam hal yang satu, ada yang dimudahkan dalam hal lainnya. Misal soal kecantikan dan keindahan secara fisik, hal ini membutuhkan dukungan materi (selain kemauan dan waktu yang cukup) agar wanita bisa mengoptimalkan potensi tersebut. Tetapi wanita yang cerdas akan lebih memilih untuk memanfaatkan waktunya bagi hal lain.Begitu juga dengan latar belakang yang berbeda akan secara tidak langsung memengaruhi wanita tersebut lebih mementingkan hal yang mana untuk dioptimalkan. Terkait dengan itu semua, faktor waktu memberikan keterbatasan, dimana 1 hari setiap manusia hanya punya 24 jam, 18 jam setelah dikurangi waktu tidur, ambil saja 16 jam efektif.
Bicara panjang lebar di atas, sebenarnya saya hanya ingin menggaris bawahi bahwa semua wanita mempunyai potensi yang sama, yang kemudian dipengaruhi oleh berbagai faktor akan melahirkan watak dan karakter yang berbeda dan hal inilah yang menyebabkan perbedaan optimalisasi potensi satu dan lainnya. Bagi para wanita, termasuk diri saya sendiri, semoga kita bisa memaksimalkan bekal waktu yang kita punya untuk mengoptimasi diri kita dengan berbagai potensi yang telah dianugerahkan oleh Nya. Bagi para pria, harap catat hal ini sebagai pertimbangan dalam menilai kaum hawa. Semuanya, berbalik pada hati.

Tak Sekedar Kata

| | 0 komentar

Palestina dan negara-negara senasib selalu mengambil simpatik banyak orang dari berbagai penjuru dunia, terutama umat muslim. Ukhuwah alias persaudaraan telah menciptakan sebuah kedekatan emosional yang tidak terikat oleh waktu, darah dan letak geografis. Bagaimanapun, yahudi dan segala perbuatannya kepada penduduk Palestina memang sudah tidak pantas dikatakan sebagai manusia, terlepas dari keterkaitan keyakinan, politik, maupun alasan-alasan lain yang melatar belakanginya. Melihat gambar-gambar, video-video yang mengabarkan kondisi di sana, saya kira semua manusia yang masih memiliki hati sepakat untuk mengatakannya sebagai sebuah kebiadaban dan juga akan timbul sebuah rasa simpati.
Atas nama simpati pula, kemudian berkembang berbagai macam bentuk reaksi manusia. Ada yang kemudian menjadi sukarelawan, ada pula yang mengadakan aksi atas nama simpati. Kemudian tentunya akan timbul pertanyaan, bagaimana penyikapan yang terbaik atas hal ini. Menurut saya, masing-masing bisa mengambil sikap sesuai dengan kemampuannya. Kalau memang ia punya keahlian yang diperlukan untuk membantu keadaan di sana, semisal seorang dokter, kemudian ia memutuskan unruk pergi ke sana menjadi seorang sukarelawan kesehatan, saya kira itu akan sangat mulia, insya Allah. Dengan catatan, niat dan kondisinya memang membenarkan untuk itu.

Nikah Belum Pasti Masuk Surga

| | 0 komentar

Lagi-lagi sebuah tulisan mengenai wanita dan pernikahan. Tergelitik saja, setelah membaca dua artikel milik dua orang teman, Laeliyatul Masruroh Nur: Kapan Menikah? dan juga Jazimah Al-Muhyi: UNTUK YANG TERCINTA: PARA LAJANGWATI. Sebenarnya, uneg-uneg ini sudah cukup lama parkir di hati dan pikiran, cuma baru-baru ini saja seperti dipantik lagi gara-gara hangatnya pembicaraan mengenai nikah (kayaknya, pembicaraan nikah memang akan selalu menjadi hot gossip :p). Ketahuilah bahwa untuk mulai mencurahkan pemikiran ini ke dalam tulisan, terasa sangat berat, tapi bismillah sajalah...
Nampaknya, hidup ini akan selalu dipenuhi dengan pertanyaan yang kebanyakan terasa sangat basi karena berulang-ulang ditanyakan. Ketika kecil, masih imut-imut gitu, kita pasti ditanya, udah sekolah belum, umurnya berapa? Lalu, beranjak kita ke bangku sekolah, maka pertanyaan akan berganti, sekarang kelas berapa, rangking berapa, kapan ujian? bla..bla..bla.. Beranjak lagi, maka akan ditanya .. kapan lulus? mau ngelanjutin ke mana? ini sampai saat kita mau kuliah. Begitu kita udah kuliah, maka akan ada pertanyaan lagi, gimana kuliahnya? sudah punya  pacar belom? kapan lulusnya? Sesudah lulus kuliah, kita pun akan ditanya, sudah kerja di mana? dan...KAPAN NIKAH?..

Nadhor Lo itu untuk Apa sih?

| | 1 komentar

Sedikit koreksi bagi saya terutama, dan semoga bisa menjadi koreksi bagi kita semua. Masih berkaitan dengan permasalahan nikah, dalam tata cara yang sesuai dengan Islam, ada proses yang disebut dengan nadhor, yaitu melihat sang calon untuk lebih memberi kemantapan.
Dalam nadhor ini, tentu saja akan banyak motivasi orang bernadhor, apakah sekedar main-main (curi-curi kesempatan) atau serius. Yang serius pun, beragam yang menjadi fokus. Memang, yang namanya nadhor itu untuk mencari kemantapan, dan ga salah juga kalau menjadikan faktor fisik sebagai parameter utamanya. Akan tetapi, setiap orang pasti mempunyai standar yang berbeda.

Dont Measure from Cover

| | 0 komentar

Ini bukan soal buku, tetapi soal manusia. Memang susah untuk mengetahui dengan pasti kepribadian seseorang, karena itu semua letaknya di hati, dan hati itu hanya Allah -sebenarnya juga pemiliknya- lah yang tau. Itulah manusia, dengan segala keterbatasannya. Sehingga Allah pun memberikan rambu-rambunya pada orang-orang yang mengaku beriman agar mengenakan pakaian taqwa. Ya, pakaian yang menjaga dan memuliakan hamba-Nya.
Pakaian sebagai salah satu parameter fisik yang memang telah ditetapkan oleh Pencipta kita, seharusnya ia menjadi sebuah cerminan atas sempurnanya penghambaan. Semakin seorang sadar akan tujuan hidupnya, semakin ia akan mengennal Tuhan, semakin ia mengenal Tuhan, semakin ia menerima dan dengan penuh kesadaran menjalankan aturan-aturanNya, termasuk di dalamnya soal pakaian. Namun, dewasa ini nampaknya sudah bergeser. Antara pakaian sebagai cerminan ketakwaan seseorang dengan nilai pakaian sebagai mode dan identitas simbolik. Saya bukan berbicara soal pakaian mini lo ya, justru saya berbicara soal pakaian takwa. Ya, pakaian takwa yang fungsinya kini sudah banyak bergeser. Wa bil khusus, saya bicara soal pakaian takwa bagi muslimah, karena pakaian takwa muslimah ini bisa dikatakan lebih memiliki kekhasan yang menonjol dibandingkan dengan busana takwanya pria.

Mencari Jodoh itu Seperti Mencari Sepatu

| | 0 komentar

Sebenernya saya bingung, yang lebih tepat itu mencari jodoh seperti mencari sepatu atau mencari sepatu seperti mencari jodoh ya? hehe... okelah lets go talking2 about this. Terinspirasi dari tulisan-tulisan teman-teman sebelumnya seputar perjuangan penantian dan pencarian jodoh. Kebetulan, liburan tadi aku cari sepatu, yah..meski penuh perjuangan Alhamdulillah dapat yang pas. Penasaran ya apa hubungannya sepatu ama jodoh, tapi bagi temen-temen yang sudah mengenalku lebih dekat pasti ngerti,hohoho...
Gini ceritanya, kakiku dan almost saudara2 ku (baik kandung maupun sepupu) punya bentuk yang unik, khususnya bagi yang perempuan. Karena kaki kami itu lebar-lebar dan panjang-panjang, jadi cukup sulit buat ndapetin sandal or sepatu model cewek. You know kan kalo pada umumnya model sepatu n sendal cewek itu kecil (sempit) dan nomor paling besar adalah 39-40 (kecil). Biar lebih jelasnya kukasih contoh gambarnya deh..




Hidup untuk Hidup

| | 0 komentar


    Sekali lagi saya sedang ingin bermuhasabah tentang hidup. Ya, hidup. Karena Karena orang yang bijak adalah orang yang selalu dapat memetik hikmah dari setiap kejadian, baik itu kejadian yang penampakannya buruk maupun baik. Barangkali karena itulah, orang bijak akan selalu membuahkan pelajaran yang baik. Dan jika pelajaran-pelajaran baik yang selalu kita dapatkan, niscaya kesyukuran dan kesabaran itu akan lahir dalam diri kita.Karena itulah saya yakin kita ingin sekali bisa menjadi orang yang bijak itu.Orang yang hidupnya selalu belajar, dari tiap-tiap segmen yang dilaluinya. Orang yang belajar untuk hidup, melalui pengalamannya ia belajar untuk menjadi lebih baik.

Siapa Yang Semestinya Menyamakan Frekuensi?

| | 0 komentar

Ini bukan bicara frekuensi di bidang keteknikan. Apalagi wilayah transformasi frekuensi semisal Fourier Transform. Saya hanya ingin melakukan introspeksi tentang sebuah amanah manusia bernama dakwah. Dengan segala keterbatasan yang ada pada diri saya tentunya, saya hanya ingin bertanya pada diri saya sendiri, kenapa sih secara umum masyarakat masih menganggap bahwa dakwah dan komunitasnya itu aneh, eksklusif, sulit dimengerti. Saya bertanya apakah kita benar-benar telah berdakwah? Ataukah memang kita hanya merasa sudah berdakwah padahal kita belum berbuat apa-apa?
Seingat saya, ada sebuah hadist yang intinya ia berisi anjuran agar dalam berdakwah, kita harus menyampaikannya sesuai dengan keadaan pendengarnya. Kalau boleh saya menyebutnya, menyamakan frekuensi, karna sebuah pesawat penerima radio hanya bisa menangkap dengan jelas jika frekuensinya disetel sama dengan frekuensi pemancar. Saya kira, itulah inti dari sebuah komunikasi yaitu bagaimana agar pesan yang disampaikan bisa diterima secara utuh di pihak penerima.
Kembali ke masalah dakwah. Terkadang saya merasa ada tembok besar, jurang yang lebar yang seolah-olah membatasi ruang dakwah. Apa pasal? Di pihak yang seharusnya menyampaikan dakwah, seringkali ada rasa ketidaknyambungan dengan pihak-pihak yang juga mempunyai hak untuk tersentuh dakwah. Sehingga, dari pihak sebaliknya pun merasa mereka tidak pantas bergabung, ataupun kurang nyaman karena merasa tidak nyambung, bahasanya terlalu "tinggi" dan lain lain dan lain lain.

Akhwat, jangan turuti perasaanmu!

| | 2 komentar

Sebenarnya, judul tulisan ini nampaknya sudah jelas tentang apa yang ingin saya sampekan. Tak tau saja, ingin sekali melontarkan dan berbagi tentang ini pada kaum hawa. Sebuah kalimat yang akan aku ingat. Ketika kondisi kejiwaan, psikisku sedang labil-labilnya, ia dengan tegas memberi saya nasihat, "Noor, jangan selalu turuti perasaan, seringkali ia menjerumuskan kita pada keterpurukan!". Sungguh, hal ini benar adanya. 
Akhwat, wanita, perempuan, galz, jangan biasakan menuruti perasaan, biasakanlah akal sehat kita yang menentukan sikap kita, kedepankan logika dari perasaan. Maaf, saya pun wanita dan saya akui, ini bukanlah hal yang mudah, mungkin karena secara fitrah kita memang didominasi oleh perasaan. Perasaan ini memang tak selamanya buruk, but perasaan yang saya maksudkan di sini adalah perasaan yang cenderung diliputi hawa nafsu. Contoh sederhananya saja, saat berjalan-jalan alias window shoping, seringkali kita tidak berpikir jauh, tidak berpikir 2-3 kali tatkala kita punya uang dan melihat sesuatu yang menarik hati kita langsung membelinya, dan tak jarang hal ini membuat kita menyesal saat kita menyadari betapa tidak pentingnya barang yang kita beli (saat kita tengah dikuasai akal sehat kita).