Tampilkan postingan dengan label catatan ngaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan ngaji. Tampilkan semua postingan

Pesan Pengingat

| | 0 komentar

Inilah di antara tulisan terbaik Syekh Ali Thanthawi Mesir Rahimahullah:

Pada saat engkau mati, janganlah kau bersedih. Jangan pedulikan jasadmu yang sudah mulai layu, karena kaum muslimin akan mengurus jasadmu.
Mereka akan melucuti pakaianmu, memandikanmu dan mengkafanimu lalu membawamu ke tempatmu yang baru, kuburan.

Akan banyak orang yang mengantarkan jenazahmu bahkan mereka akan meninggalkan pekerjaannya untuk ikut menguburkanmu. Dan mungkin banyak yang sudah tidak lagi memikirkan nasihatmu pada suatu hari.....

Barang barangmu akan dikemas; kunci kuncimu, kitab, koper, sepatu dan pakaianmu. Jika keluargamu setuju barang2 itu akan disedekahkan agar bermnfaat untukmu.

Yakinlah; dunia dan alam semesta tidak akan bersedih dg kepergianmu.
Ekonomi akan tetap berlangsung!
Posisi pekerjaanmu akan diisi orang lain.
Hartamu menjadi harta halal bagi ahli warismu. Sedangkan kamu yg akan dihisab dan diperhitungkan untuk yang kecil dan yang besar dari hartamu!

Kesedihan atasmu ada 3;
Orang yg mengenalmu sekilas akan mengatakan, kasihan.
Kawan2mu  akan bersedih beberapa jam atau beberapa hari lalu mereka kembali seperti sediakala dan tertawa tawa!
Di rumah ada kesedihan yg mendalam! Keluargamu akan bersedih seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, dan mungkin hingga setahun??
Selanjutnya mereka meletakkanmu dalam arsip kenangan!

Demikianlah "Kisahmu telah berakhir di tengah2 manusia".
Dan kisahmu yang sesungguhnya baru dimulai, Akhirat!!
Telah musnah kemuliaan, harta, kesehatan, dan anak.
Telah engkau tinggalkan rumah, istana dan istri tercinta.
Kini hidup yg sesungguhnya telah dimulai.

Pertanyaannya adalah:
Apa persiapanmu untuk kuburmu dan Akhiratmu??
Hakikat ini memerlukan perenungan.

Usahakan dgn sungguh2;
Menjalankan kewajiban kewajiban,
hal-hal yg disunnahkan,
sedekah rahasia,
merahasiakan amal shalih,
shalat malam,
Semoga saja engkau selamat.

Andai engkau mengingatkan manusia dgn tulisan ini insyaAllah pengaruhnya akan engkau temui dlm timbangan kebaikan

Mengumpulkan Makna firmanNya dalam Al baqarah:272 (5-habis)

| | 0 komentar


Bagian 5- Sedekahnya Seorang Muslim

Diriwayatkan oleh Abu Huzaifah, Ibnul Mubarak, Abu Ahmad Az-Zubairi, dan Abu Daud Al-Hadrami, dari Sufyan (yaitu As-Sauri). Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Qasim ibnu Atiyyah, telah menceritakan kepadaku Ahmad ibnu Abdurrahman ayahku telah menceritakan kepadaku dari ayahnya; Asy'aS ibnu Ishaq telah menceritakan kepada kami dari Ja'far ibnu Abdul Mugirah, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Nabi Saw., bahwa Nabi Saw. memerintahkan agar janganlah diberi sedekah kecuali orang-orang yang memeluk Islam, hingga turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya:

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk.(Al-Baqarah: 272), hingga akhir ayat.

Setelah ayat ini turun, maka Nabi Saw. memerintahkan memberi sedekah kepada setiap orang yang meminta kepadamu dari semua kalangan agama. Dalam hadis Asma binti As-Siddiq akan dijelaskan masalah ini, yaitu dalam tafsir firman-Nya:

Allah tidak melarang kalian (untuk berbuat baik dan berlaku adil)terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. (Al Mumtahanah: 8)

Mengumpulkan Makna firmanNya dalam Al baqarah:272 (4)

| | 0 komentar


Bagian 4- Hikmah Adanya Kesesatan dan Kewajiban Berusaha Menggapai Hidayah

Terulang-ulang dalam Al-Qur’an dijadikannya amalan yang ada pada qalbu dan anggota badan sebagai sebab hidayah atau sebab kesesatan. Sehingga pada qalbu dan anggota badan ini terdapat amalan-amalan yang membuahkan datangnya petunjuk, layaknya hubungan sebab akibat. Demikian pula kesesatan.
Amal kebaikan membuahkan hidayah. Seiring bertambahnya amal kebaikan maka hidayah pun akan meningkat. Sementara amal kejahatan sebaliknya. Hal itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai amal kebaikan sehingga memberikan balasan atasnya dengan hidayah dan keberuntungan, serta membenci amal kejahatan dan membalasinya dengan kesesatan dan kesengsaraan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai kebaikan dan mencintai para pemeluknya sehingga mendekatkan qalbu mereka kepada-Nya seukuran kebaikan yang mereka lakukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga membenci kejahatan dan para pemeluknya sehingga menjauhkan qalbu mereka dari-Nya seukuran dengan kejahatan yang melekat pada dirinya. Yang mendasari prinsip ini di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Alif Laam Miim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 1-2)

Mengumpulkan Makna firmanNya dalam Al baqarah:272 (3)

| | 1 komentar


Bagian 3- Perjuangan Meraih Hidayah


Allah ta’ala berfirman,
الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُون
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan merekalah orang yang mendapatkan hidayah.” (QS. Al An’aam [6]: 82)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud,
لَمَّا نَزَلَتْ {الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ} قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا لَا يَظْلِمُ نَفْسَهُ قَالَ لَيْسَ كَمَا تَقُولُونَ {لَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ} بِشِرْكٍ أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لِابْنِهِ {يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ}
“Ketika turun ayat, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman.” Kami (para sahabat) mengatakan, “Wahai Rasulullah. Siapakah di antara kita ini yang tidak melakukan kezaliman terhadap dirinya ?”

Maka Rasulullah pun menjawab, “Maksud ayat itu tidak seperti yang kalian katakan. Sebab makna, “Tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman” adalah (tidak mencampurinya) dengan kesyirikan. Bukankah kalian pernah mendengar ucapan Luqman kepada puteranya, “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, karena sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.”

Menurut para sahabat ayat ini berlaku umum mencakup semua bentuk kezaliman. Sehingga mereka menyangka kezaliman terhadap diri sendiri pun tercakup dalam syarat untuk mendapatkan keamanan dan hidayah yang disebutkan oleh ayat ini. Artinya orang yang menzalimi dirinya (dengan berbuat maksiat, pent) tidak akan termasuk orang yang mendapatkan rasa aman dan petunjuk. Sehingga hal ini tentu memberatkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab musykilah yang muncul dalam pikiran para sahabat dengan menjelaskan bahwa kezaliman yang benar-benar melenyapkan anugerah keimanan dan petunjuk adalah kezaliman yang berupa kesyirikan. Sebab dengan berbuat syirik seorang hamba telah berani menujukan ibadah kepada sesuatu yang tidak berhak menerimanya.

Mengumpulkan Makna firmanNya dalam Al baqarah:272 (2)

| | 0 komentar


Bagian2 - Manusia senantiasa membutuhkan hidayah

Hidayah itu ada dua macam: hidayah berupa keterangan (hidayatul irsyad wal bayan) dan hidayah berupa pertolongan (hidayatut taufiq wal ilham). Kedua macam hidayah ini bisa dirasakan oleh orang-orang yang bertakwa. Adapun selain mereka hanya mendapatkan hidayatul bayan saja. Artinya mereka tidak mendapatkan taufiq dari Allah untuk mengamalkan ilmu dan petunjuk yang sampai kepada dirinya. Padahal, hidayatul bayan tanpa disertai taufiq untuk beramal bukanlah petunjuk yang hakiki dan sempurna.

Maka wajarlah jika Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Seorang ‘alim (orang yang berilmu) itu masih dianggap jahil (bodoh) selama dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia sudah mengamalkan ilmunya maka barulah dia menjadi seorang yang benar-benar ‘alim.”
Hidayah atau petunjuk adalah perkara yang dibutuhkan oleh setiap orang. Karena demikian pentingnya hal ini, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk meminta petunjuk kepada Allah minimal 17 kali dalam sehari semalam di setiap raka’at shalat yang kita kerjakan. Yaitu dengan doa yang terdapat dalam surat al-Fatihah,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيم
“Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah [1]: 6)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dari Maimun bin Mihran dari Ibnu ‘Abbas bahwa makna shirathal mustaqim adalah Islam, tafsiran serupa dikatakan oleh beberapa orang sahabat yang lain. Sedangkan menurut Mujahid yang dimaksud dengan shirathal mustaqim adalah kebenaran (lihat Tafsir Ibnu Katsir, I/36).

Mengumpulkan Makna firmanNya dalam Al baqarah:272 (1)

| | 0 komentar


Bagian1- Hidayah di tangan Allah

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allahlah yang memberikan petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan). (Al Baqarah: 272)

Abu Abdur Rahman An-Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdus Salam ibnu Abdur Rahim, telah menceritakan kepada kami Al-Faryabi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A'masy, dari Ja'far ibnu Iyas, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa mereka (kaum muslim pada permulaan Islam) ddak suka bila nasab mereka dikaitkan dengan orang-orang musyrik. Lalu mereka meminta, dan diberikan keringanan kepada mereka dalam masalah ini. Maka turunlah ayat tersebut.

Ayat tersebut merupakan jawaban/penjelasan atas rasa tidak senang kaum muslimin permulaan Islam jika nasab mereka dikaitkan dengan orang musyrik. Allah memberikan penjelasan bahwa hanya Dia lah yang memberikan petunjuk bagi siapa yang dikehendakinya. Hidayah tidak dipengaruhi oleh faktor nasab/keturunan/kekerabatan. Hidayah adalah nikmatnya yang agung yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya. Meskipun demikian, kita dapati sebagian orang yang menyepelekan hidayah yang agung ini atau menyia-nyiakannya. Betapa banyak di antara mereka yang telah diberikan hidayah oleh Allah untuk memeluk agama Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat, menjalankan sholat, membayarkan zakat, berpuasa Ramadhan, bahkan bisa menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit di antara mereka yang tidak menyadari betapa besar anugerah yang Allah berikan kepada mereka. 

Sudahkah Kita Ikhlas?

| | 0 komentar



Pernah dengar kalimat ini, ?
"Menasihati itu harus dari hati, sebab hati hanya bisa disentuh dengan hati"

Walaupun kalimat tersebut abstrak, tapi saya menyetujuinya, juga barangkali sebagian besar pembaca setuju atas pernyataan itu. Akan tetapi, sebagian mungkin masih merasa maknanya sangat abstrak dan sulit untuk dipahami. Nah, semalam, saya mendengarkan sebuah rekaman kajian yang berjudul "Berdakwah dengan Hati". Materi tersebut terdiri dari beberapa part rekaman file mp3. Dan yang baru sempat saya dengarkan adalah file part 1, yang menerangkan tentang ikhlas dalam berdakwah.

Ya, ikhlas. Itulah penjelasan dari kalimat hati hanya dapat disentuh dengan hati, khususnya dalam rangka nasihat-menasihati. Kita tahu bahwa ikhlas itu letaknya di dalam hati, dan hanya hati dalam kondisi sehat lah yang dapat mencapai ikhlas -biidznillah-. Ustad Abdullah Zen dalam kajian tersebut menerangkan mengenai ikhlas dalam berdakwah. Ikhlas dapat membuat nasihat atau ajakan lebih diterima oleh objeknya. 

KAMI SEDANG BERSIAP WUKUF (Menyoal Puasa Arafah)

| | 0 komentar

by Ketua Forpek Madinah on Sunday, November 14, 2010 at 8:20pm

Secara ilmiyah, perhitungan selisih jam antara Saudi dengan wilayah Indonesia hanya sekitar 4 jam. Dalam kalender Islam, pergantian hari/tanggal adalah selepas maghrib. Saat ini di Saudi baru akan masuk waktu ashar (saat ini baru jam 15:25) dan di dalam kalender menunjukkan tanggal 8 Dzulhijah. Jadi selepas maghrib nanti telah masuk tanggal 9 Dzulhijah, sedangkan di Indonesia saat pergantian itu sekitar pukul 10 malam.

Terkait pelaksanaan puasa Arafah sebagai barikut:

1. Telah berlalu penjelasan bahwasannya puasa ‘Arafah disunnahkan hanya bagi mereka yang tidak melaksanakan wuquf di ‘Arafah. Ini mengandung pengertian bahwa puasa ‘Arafah ini terkait dengan pelaksanaan ibadah haji/wuquf. Jika parahujjaj telah wuquf, maka pada waktu itulah disyari’atkannya melaksanakan puasa ‘Arafah bagi mereka yang tidak melaksanakan haji. 

Sudahkah Kita Berbakti Pada Orang Tua?

| | 0 komentar


Alloh yang Maha Bijaksana telah mewajibkan setiap anak untuk berbakti kepada orang tuanya. Bahkan perintah untuk berbuat baik kepada orang tua dalam Al Qur’an digandengkan dengan perintah untuk bertauhid sebagaimana firman-Nya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” (Al Isro’: 23)

Di manakah Allah? (bag2. Penetapan Ketinggian Allah)

| | 0 komentar

Setelah sebelumnya telah dijelaskan mengenai Allah yang bersemayam di atas Arsy, pada bagian ini akan dibahas mengenai ketinggian Allah. Ketinggian Allah meliputi dua macam ketinggian yaitu :
1. Ketinggian abstrak atau maknawi yang bersifat tetap bagi Allah
2. Ketinggian Dzat yang juga merupakan sifat yang telah ditetapkan oleh Ahlussunnah dengan dalil-dalil yang menunjukkannya.
  • Dalil kitab/ Al Quran
1. Allah menyebutkan ketinggiannya



Di manakah Allah ? (bag1. Allah bersemayam/meninggi di atas Arsy)

| | 1 komentar

Pernahkah terbesit pertanyaan di manakah Allah? Atau sebaliknya kita ditanya tentang keberadaan Allah. Lalu, sudahkan kita bisa menjawabnya dengan benar? Sebagian orang berkata Allah ada di mana-mana, atau bahkan ada yang berkata Allah menyatu dengan diri. Sudah tahukah bahwa sebenarnya Allah sendiri menjelaskan keberadaan Nya di dalam firman Nya, bahwa Allah bersemayam di atas arsy. Ya, Allah berada di atas langit, IA bersemayam di atas Arsy, sebagaimana dikatakan :
إن ربكم الله الذي خلق السموات والارض في ستة ايام ثم استوى على العرش  -الاعرف 54
الله الذي رفع السموات بغير عمد ترونها ثم استوى على العرش وسخر الشمس والقمر كل يجري لاجل مسمى يدبرالامريفصل الايات لعلكم بلقاء ربكم توقنون  -الرعد2
الرحمن على العرش استوى  -طه5
Al A'raf 54.  Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.
Ar Ra'd 2.  Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.
Thaha 5.  (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy

Mengenal Nasab Rasulullah -shallallahu 'alaihi wassalam-

| | 0 komentar

Sering tanpa kita sadari kita telah menghapal banyak nama, entah itu tokoh ilmuwan, pahlawan maupun artis-artis yang sebenernya ga penting untuk dihapal. Kadang saya pun berpikir, andai saja ada sebuah alat yang bisa men-delete data-data ga penting dalam memory otakku. Begitu banyaknya nama yang tanpa kita sadari telah kita hapal, tak jarang kita malah sangat sedikit mengetahui sejarah Rasulullah Muhammad sallallahu 'alaihi wassalam yang tak kurang dari 9 kali sehari semalam kita mengaku-ngaku atas komitmen kita dalam ucapan syahadat (pada tasyahud shalat-shalat kita). Untuk itu saya mencoba untuk memaksakan diri menyelami lembaran-lembaran shirah beliau sallallahu 'alaihi wassalam (tentu dengan penuh perjuangan, bayangkan 5 halaman terbaca tidurnya hampir 45 menit, hehe..). Berikut bagian pertama hasil resume yang coba saya buat dari hasil belajar saya. 
Secara ringkas, nasab beliau -shallallahu 'alaihi wassalam- dari kakek beliau adalah sebagai berikut:

Penting untuk Kuingat

| | 0 komentar

Tertundanya pemberian setelah engkau mengulang-ulang permintaan, janganlah membuatmu berpatah harapan. Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Dia pilih buatmu, bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri, dan pada saat yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau ingini.
Tak terjadinya sesuatu yang dijanjikan, padahal waktunya telah tiba, janganlah sampai membuatmu ragu terhadap janji Allah itu. Supaya, yang demikian tidak mengaburkan pandangan mata batinmu dan memadamkan cahaya relung hatimu.

Ringkasan Seputar Shalat Istikharah

| | 0 komentar

Sudah hampir tidur, tiba-tiba seorang teman bertanya tentang shalat istikharah. Mumpung inget barangkali ada baiknya bila saya tulis juga disini beberapa hal mengenai shalat istikharah:

  • Pelaksanaan shalat istikharah adalah shalat sunat dua rakaat  yang setelahnya kita membaca doa istikharah
  • Doa istikharah adalah sebagai berikut
          ((اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ -وَيُسَمَّى حَاجَتَهُ- خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ -أَوْ قَالَ: عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ- فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ -أَوْ قَالَ: عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ- فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ)).



Iman Kepada Malaikat (bag2)

| | 0 komentar

CAKUPAN IMAN KEPADA MALAIKAT1
Iman kepada malaikat mengandung empat unsur.
1.    Mengimani wujud mereka.
2.    Mengimani mereka yang kita kenali nama-namanya, seperti Jibril, dan juga terhadap nama-nama malaikat yang tidak kita kenal.
3.    Mengimani sifat-sifat mereka yang kita kenali, seperti sifat bentuk Jibril, sebagaimana yang pernah dilihat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang mempunyai 600 sayap yang menutup ufuk.
Malaikat bisa saja menjelma berwujud seorang lelaki, seperti yang pernah terjadi pada malaikat Jibril tatkala Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutusnya kepada Maryam. Jibril menjelma jadi seorang yang sempurna. Demikian pula ketika Jibril datang kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, sewaktu beliau sedang duduk di tengah-tengah para sahabatnya. Jibril datang dengan bentuk seorang lelaki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat tanda-tanda perjalanannya, dan tidak seorang sahabatpun yang mengenalinya. Jibril duduk dekat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya. Ia bertanya kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tentang Islam, iman, ihsan, hari kiamat, dan tanda-tandanya. Setelah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab seluruh pertanyaannya, Jibril pergi. Setelah tidak di situ lagi, barulah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjelaskan kepada para sahabatnya, "Itu adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan agama kalian."
Demikian halnya dengan para malaikat yang diutus kepada nabi Ibrahim dan Luth. Mereka menjelma bentuk menjadi lelaki.

Iman Kepada Malaikat (bag1)

| | 0 komentar

Rukun iman yang enam, barangkali sebagian menganggap hal ini seperti pembicaraan anak TK. Namun, apa benar kita telah benar-benar memahami rukun iman tersebut? Kali ini saya mencoba untuk membagikan salah satu dari enam poin rukun iman yaitu Iman Kepada Malaikat. Bacaan ini akan bersambung dalam beberapa tulisan, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.
  1. DEFINISI MALAIKAT1
Malaikat adalah alam gaib, makhluk, dan hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala. Malaikat sama sekali tidak memiliki keistimewaan rububiyah dan uluhiyah. Allah menciptakannya dari cahaya serta memberikan ketaatan yang sempurna serta kekuatan untuk melaksanakan ketaatan itu.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya : “dan malaikat yang ada di sisi-Nya, mereka tidak angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya." [Al Anbiyaa: 19-20]
Malaikat berjumlah banyak, dan tidak ada yang dapat menghitungnya, kecuali Allah. Dalam hadits Al Bukhari Muslim terdapat hadits dari Anas Radhiyallahu 'Anhu tentang kisah mi'raj bahwa Allah telah memperlihatkan al Baitul Ma'mur di langit kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Di dalamnya terdapat 70.000 malaikat yang setiap hari melakukan shalat. Siapapun yang keluar dari tempat itu, tidak kembali lagi.

Penghalang Taufik Alloh Ta'ala

| | 0 komentar

Sumber kebaikan adalah taufik Alloh Ta'aa,  akan tetapi sebagian manusia merasa sombong dan malas berdoa sehingga ia menjadi orang yang dihinakan oleh Alloh ta'ala -wa iyyaadu billah-
Berikut ini diantara sebab-sebab yang membuat manusia terhalangi dari taufik Allah:
  • hidupnya disibukkan dengan kenikmatan/ terlena sehingga lupa bersyukur
  • menuntut ilmu tetapi tidak mengamalkan ilmu
  • begitu bersegera dalam, maksiat dan terbelakang dalam taubat
  • terperdaya dengan bersahabat bersama-sama orang-orang yang salih dan tidak mengikuti kebaikan-kebaikan mereka
  • tertipu dengan dunia
Ingatlah, Rasululullah sallallahu 'alaihi wassalam telah berpesan:
Bersegeralah dalam melakukan kebaikan sebelum datangnya fitnah yang datangnya dapat membuat seorang yang di pagi harinya beriman dan di sore harinya ia telah kafir

-sebuah catatan dari kajian Tiga Landasan Utama-

Syarat Solat

| | 0 komentar


Jika syarat sholat tidak dipenuhi maka batallah solatnya baik lupa maupun sengaja. Sedangkan jika rukun tidak dipenuhi maka bisa batal sholat maupun batal rokaat sholat. Batal sholat jika ingatnya setelah salam dan batal rokaat solat misalnya jika lupa sujud kedua di rokaat pertama dan baru ingat dirokaat kedua maka rokaat kedua dianggap rokaat pertama.
Syarat 2 solat adalah sebagai berikut:
1. Islam
2. Berakal
    Adapun orang tak berakal yang terbebas dari hukum dapat terbagi menjadi:
    - orang gila sampai dengan sehat kembali
    - orang tidur sampai dengan bangun
    - anak kecil sampai dengan dewasa
3. Tamyiz (+- 7 tahun)
    adapun orang dapat hilang tamyiznya, misal pikun, stroke yang sampai lupa ingatan
4. Hilangnya hadast
    Adapun menghilangkan hadast dapat dilakukan dengan:
    - berwudhu untuk hadast kecil
    - mandi untuk hadast besar
    atau tayamum
5. Menghilangkan najis dari badan, pakaian dan tempat untuk solat
    jika najis dibawa karena lupa atau tidak tau maka tetap sah solatnya, jika teringat ditengah solat maka dapat disingkirkan lalu dilanjutkan solatnya
6. Menutup aurat

Adzan dan Iqomat

| | 0 komentar


Adzan
Adzan secara bahasa artinya pemberitahuan atau pengumuman. Secara istilah berarti pemberitahuan tibanya waktu solat dengan lafadz-lafadz yang disyariatkan. Adzan yang sah dikumandangkansetelah tibanya waktu sholat disebut juga nida’ (QS Jumuah:89) artinya panggilan (dari tempat yang jauh dan pasti keras). Adapun muadzin adalah penyeru, ia memanggil orang untuk mengerjakan sholat.

Iqomat
Secara bahasa iqomat artinya meluruskan, adapun secara istilah maknanya pemberitahuan dikerjakannya salat wajib dengan kata-kata yang disyariatkan. Iqomat disebut juga adzan(kedua), Rasul saw bersabda: “Diantara dua adzan ada sholat” yang merupakan dalil sholat sunah setelah adzan dan sebelum iqomat.