Siapa Yang Semestinya Menyamakan Frekuensi?

| | 0 komentar

Ini bukan bicara frekuensi di bidang keteknikan. Apalagi wilayah transformasi frekuensi semisal Fourier Transform. Saya hanya ingin melakukan introspeksi tentang sebuah amanah manusia bernama dakwah. Dengan segala keterbatasan yang ada pada diri saya tentunya, saya hanya ingin bertanya pada diri saya sendiri, kenapa sih secara umum masyarakat masih menganggap bahwa dakwah dan komunitasnya itu aneh, eksklusif, sulit dimengerti. Saya bertanya apakah kita benar-benar telah berdakwah? Ataukah memang kita hanya merasa sudah berdakwah padahal kita belum berbuat apa-apa?
Seingat saya, ada sebuah hadist yang intinya ia berisi anjuran agar dalam berdakwah, kita harus menyampaikannya sesuai dengan keadaan pendengarnya. Kalau boleh saya menyebutnya, menyamakan frekuensi, karna sebuah pesawat penerima radio hanya bisa menangkap dengan jelas jika frekuensinya disetel sama dengan frekuensi pemancar. Saya kira, itulah inti dari sebuah komunikasi yaitu bagaimana agar pesan yang disampaikan bisa diterima secara utuh di pihak penerima.
Kembali ke masalah dakwah. Terkadang saya merasa ada tembok besar, jurang yang lebar yang seolah-olah membatasi ruang dakwah. Apa pasal? Di pihak yang seharusnya menyampaikan dakwah, seringkali ada rasa ketidaknyambungan dengan pihak-pihak yang juga mempunyai hak untuk tersentuh dakwah. Sehingga, dari pihak sebaliknya pun merasa mereka tidak pantas bergabung, ataupun kurang nyaman karena merasa tidak nyambung, bahasanya terlalu "tinggi" dan lain lain dan lain lain.

Akhwat, jangan turuti perasaanmu!

| | 2 komentar

Sebenarnya, judul tulisan ini nampaknya sudah jelas tentang apa yang ingin saya sampekan. Tak tau saja, ingin sekali melontarkan dan berbagi tentang ini pada kaum hawa. Sebuah kalimat yang akan aku ingat. Ketika kondisi kejiwaan, psikisku sedang labil-labilnya, ia dengan tegas memberi saya nasihat, "Noor, jangan selalu turuti perasaan, seringkali ia menjerumuskan kita pada keterpurukan!". Sungguh, hal ini benar adanya. 
Akhwat, wanita, perempuan, galz, jangan biasakan menuruti perasaan, biasakanlah akal sehat kita yang menentukan sikap kita, kedepankan logika dari perasaan. Maaf, saya pun wanita dan saya akui, ini bukanlah hal yang mudah, mungkin karena secara fitrah kita memang didominasi oleh perasaan. Perasaan ini memang tak selamanya buruk, but perasaan yang saya maksudkan di sini adalah perasaan yang cenderung diliputi hawa nafsu. Contoh sederhananya saja, saat berjalan-jalan alias window shoping, seringkali kita tidak berpikir jauh, tidak berpikir 2-3 kali tatkala kita punya uang dan melihat sesuatu yang menarik hati kita langsung membelinya, dan tak jarang hal ini membuat kita menyesal saat kita menyadari betapa tidak pentingnya barang yang kita beli (saat kita tengah dikuasai akal sehat kita).

Terus Belajar..

| | 0 komentar

Ada orang yang bertanya, ngapain sih saya masih menggeluti bidang-bidang teknik yang -toh nantinya- saya akan menjadi istri dan ibu juga. Dan saya yakin semua sepakat bahwa seorang istri dan ibu yang profesional akan lebih menghabiskan waktunya di rumah dan untuk keluarga.
Barangkali memang secara lahir itu tak akan terkait dengan skill seorang ibu rumah tangga, toh nantinya -seolah olah- kerjanya hanya mengurus rumah, mengurus anak, dan melayani suami. Bagi saya, justru semangat belajar itu timbul dari keinginan menjadi seorang ibu rumah tangga yang profesional.Ditambah penyesalan atas pemanfaatan kesempatan yang kurang optimal di masa lalu (baca: saat kuliah). 
Bagi saya pemikiran bahwa yang patut dipelajari ibu hanyalah seputar urusan memasak, mengurus rumah, anak dan suami, adalah pemikiran yang sempit. Lagipula, mau tidak mau, terima tidak terima, saya adalah lulusan s1 teknik elektro. Status saya secara legal telah diakui -setidak tidaknya- sebagai sarjana teknik.

أحمد في المطعم

| | 0 komentar

يذهب أحمد إلى المطعم بسيا رةلانه جوعان
في المطعم هناك الطعام كثير جداوالمشربات المختلفة
يأكل أحمدالأرز والسماك والدجاج والسلطة والفاكهة
يشرب حليب بارداوشايا
يأكل أحمد كثير ولكن ليس هو ثمين

Mufradat
ذهب : pergi
المطعم : warung makan
جوعان : lapar
أكل : makan
الطعام : makanan
المشربات : minuman
أرز : nasi
السماك : ikan
الدجاج : daging
السلطة : salad
الفاكهة : buah-buahan
يشرب : (dia laki2) minum
حليب : susu

شاي : teh

Iman Kepada Malaikat (bag2)

| | 0 komentar

CAKUPAN IMAN KEPADA MALAIKAT1
Iman kepada malaikat mengandung empat unsur.
1.    Mengimani wujud mereka.
2.    Mengimani mereka yang kita kenali nama-namanya, seperti Jibril, dan juga terhadap nama-nama malaikat yang tidak kita kenal.
3.    Mengimani sifat-sifat mereka yang kita kenali, seperti sifat bentuk Jibril, sebagaimana yang pernah dilihat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang mempunyai 600 sayap yang menutup ufuk.
Malaikat bisa saja menjelma berwujud seorang lelaki, seperti yang pernah terjadi pada malaikat Jibril tatkala Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutusnya kepada Maryam. Jibril menjelma jadi seorang yang sempurna. Demikian pula ketika Jibril datang kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, sewaktu beliau sedang duduk di tengah-tengah para sahabatnya. Jibril datang dengan bentuk seorang lelaki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat tanda-tanda perjalanannya, dan tidak seorang sahabatpun yang mengenalinya. Jibril duduk dekat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya. Ia bertanya kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tentang Islam, iman, ihsan, hari kiamat, dan tanda-tandanya. Setelah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab seluruh pertanyaannya, Jibril pergi. Setelah tidak di situ lagi, barulah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjelaskan kepada para sahabatnya, "Itu adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan agama kalian."
Demikian halnya dengan para malaikat yang diutus kepada nabi Ibrahim dan Luth. Mereka menjelma bentuk menjadi lelaki.