Ini bukan bicara frekuensi di bidang keteknikan. Apalagi wilayah transformasi frekuensi semisal Fourier Transform. Saya hanya ingin melakukan introspeksi tentang sebuah amanah manusia bernama dakwah. Dengan segala keterbatasan yang ada pada diri saya tentunya, saya hanya ingin bertanya pada diri saya sendiri, kenapa sih secara umum masyarakat masih menganggap bahwa dakwah dan komunitasnya itu aneh, eksklusif, sulit dimengerti. Saya bertanya apakah kita benar-benar telah berdakwah? Ataukah memang kita hanya merasa sudah berdakwah padahal kita belum berbuat apa-apa?
Seingat saya, ada sebuah hadist yang intinya ia berisi anjuran agar dalam berdakwah, kita harus menyampaikannya sesuai dengan keadaan pendengarnya. Kalau boleh saya menyebutnya, menyamakan frekuensi, karna sebuah pesawat penerima radio hanya bisa menangkap dengan jelas jika frekuensinya disetel sama dengan frekuensi pemancar. Saya kira, itulah inti dari sebuah komunikasi yaitu bagaimana agar pesan yang disampaikan bisa diterima secara utuh di pihak penerima.
Kembali ke masalah dakwah. Terkadang saya merasa ada tembok besar, jurang yang lebar yang seolah-olah membatasi ruang dakwah. Apa pasal? Di pihak yang seharusnya menyampaikan dakwah, seringkali ada rasa ketidaknyambungan dengan pihak-pihak yang juga mempunyai hak untuk tersentuh dakwah. Sehingga, dari pihak sebaliknya pun merasa mereka tidak pantas bergabung, ataupun kurang nyaman karena merasa tidak nyambung, bahasanya terlalu "tinggi" dan lain lain dan lain lain.
Kembali ke masalah dakwah. Terkadang saya merasa ada tembok besar, jurang yang lebar yang seolah-olah membatasi ruang dakwah. Apa pasal? Di pihak yang seharusnya menyampaikan dakwah, seringkali ada rasa ketidaknyambungan dengan pihak-pihak yang juga mempunyai hak untuk tersentuh dakwah. Sehingga, dari pihak sebaliknya pun merasa mereka tidak pantas bergabung, ataupun kurang nyaman karena merasa tidak nyambung, bahasanya terlalu "tinggi" dan lain lain dan lain lain.

